Budidaya Ikan Nila Bioflok

Budidaya Ikan Nila Bioflok – Ikan nila cukup banyak dipilih untuk dibudidayakan karena dianggap mudah beradaptasi terhadap perubahan iklim. Apalagi kini sudah dikenal dengan sistem budidaya ikan nila bioflok.

Tercatat produksi ikan nila sejak tahun 2016 mengalami peningkatan. Dari tahun tersebut ke tahun berikutnya bertambah sebanyak 3,6%. Bahkan kini peternak ikan nila Indonesia telah mengekspor hasil panennya ke berbagai negara di Asia hingga Eropa dan Amerika.

Budidaya ikan nila bioflok merupakan sistem budidaya ikan yang menawarkan keuntungan luar biasa. Meskipun terbilang baru, cukup banyak pembudidaya ikan yang mulai beralih dari sistem konvensional ke sistem bioflok.

Barangkali Anda bertanya-tanya, mengapa demikian? Alasan utamanya adalah prosesnya yang mudah kemudian hasil panennya yang melimpah ruah.

Apa Itu Sistem Budidaya Ikan Nila Bioflok?

Apa Itu Sistem Budidaya Ikan Nila Bioflok?
mongabay.co.id

Dibandingkan dengan sistem konvensional, sistem bioflok dapat menekan kematian ikan lebih tinggi. Tak sedikit pembudidaya yang mampu meraup keuntungan besar dalam satu kali panen lantaran persentase ikan yang layak jual dengan ikan cacat mencapai sembilan banding satu. Artinya, 90% ikan dapat dipanen dan dijual dengan harga tinggi.

Adapun konsep budidaya ikan nila bioflok adalah dengan menggunakan bakteri baik. Hal ini sesuai dengan namanya, yaitu “bios” (kehidupan) dan “flok” (gumpalan). Jadi, gumpalan kehidupan tersebut yang mana adalah bakteri akan mengubah kotoran ikan menjadi makanan ikan.

Dengan metode bioflok, bakteri akan menguraikan kotoran atau sisa pakan ikan menjadi makanan yang dapat dikonsumsi ikan.

Sistem ini meminimalisasi penggunaan air, mengingat adanya penerapan aturan kepadatan ikan. Selain itu, dalam kolam air yang menerapkan teknik bioflok harus dilengkapi dengan aerator untuk mengatur oksigen pada air.

Ada empat komponen yang menjadikan budidaya ikan nila bioflok berhasil, yaitu sumber karbon, ketersediaan oksigen, bakteri pengurai, serta bahan organik dari sisa pakan dan kotoran ikan. Bahan-bahan organik tersebut akan larut di dalam air oleh aerator sehingga bakteri hidup dan berkembang di sana.

Selanjutnya, bahan organik tadi akan terurai dan bakteri menyerap mineral dan nutrient lainnya. Hasil akhir dari proses tersebut adalah kualitas air lebih baik dan bakteri yang berubah menjadi makanan ikan.

Keunggulan Sistem Bioflok

Keunggulan Sistem Bioflok Ikan Nila
news.kkp.go.id

Banyaknya peternak ikan nila yang memilih sistem bioflok pasti bukan tanpa alasan. Kalau tidak memberikan keuntungan, mereka tidak mungkin menggunakan teknik ini. Lantas apa saja keuntungan menerapkan sistem bioflok dalam budidaya ikan nila? Berikut uraiannya:

Artikel Terkait: Makanan Ikan Nila

1. Meningkatkan Survival Rate (SR)

Penerapan metode bioflok dapat meningkatkan survival rate atau kelangsungan hidup ikan nila. Hal ini diperkuat dari hasil panen yang mampu mencapai 90 persen dengan penggantian air yang sangat minim.

Menariknya, air bekas budidaya ikan nila tidak berbau menyengat layaknya metode lain, sebut saja metode kolam beton atau tanah. Selain bagus untuk kesehatan ikan, hal ini juga baik bagi lingkungan sekitar.

Tak hanya itu saja, jika disinergikan dengan pemeliharaan tanaman, seperti buah dan sayur, hal ini bisa membuka peluang bisnis baru dengan omzet tanpa batas.

2. Feed Conversion Ratio (FCR)

Menerapkan metode bioflok sama artinya Anda telah menggunakan sistem perbandingan optimal antara makanan dengan berat ikan. Misalnya, perbandingan berat pakan dengan massa ikan selama satu periode mencapai 1.05.

Artinya, 1.05 kilogram pakan akan menghasilkan satu kilogram ikan nila. Jika dibandingkan dengan metode konvensional yang umumnya mencapai angka 1.5, maka perbandingan sistem bioflok lebih efektif dan hemat pakan.

3. Tebar Padat

Tebar padat dalam metode bioflok sangat tinggi, rata-rata mencapai 100 hingga 150 ekor per meter kubik. Jika dibandingkan dengan tebar padat metode konvensional, maka perbandingannya mencapai sepuluh hingga lima belas kali lipat.

Pasalnya, tebar padat kolam konvensional sangat rendah, hanya mencapai sepuluh ekor per meter kubik. Inilah salah satu alasan kuat mengapa pembudidaya ikan mulai meninggalkan sistem budidaya ikan konvensional.

4. Meningkatkan Produktivitas

Metode bioflok sangat efektif dalam meningkatkan produktivitas ikan. Pada metode konvensional, produktivitas ikan hanya mencapai dua kilogram per meter kubik. Sementara pada metode bioflok bisa mencapai 25 hingga 30 gram per meter kubik.

Artinya, penerapan metode bioflok meningkatkan produktivitas hingga lima belas kali lipat dibandingkan metode budidaya konvensional.

5. Waktu Pemeliharaan Singkat

Waktu pemeliharaan relatif singkat. Dengan benih ikan berukuran 8 hingga 10 cm, Anda hanya membutuhkan waktu selama tiga bulan sebelum masa panen tiba.

Dalam waktu tiga bulan pemeliharaan, ikan dapat mencapai ukuran hingga tiga ratus gram per ekor atau lebih. Sementara pada kolam konvensional, waktu yang dibutuhkan sekitar empat hingga enam bulan dengan ukuran yang sama.

6. Hasil Lebih Optimal

Hasil ikan nila pada metode bioflok lebih optimal. Daging yang dihasilkan lebih gurih, minim kandungan air, tidak berbau, dan lebih sehat.

7. Lebih Menguntungkan

Dari sisi bisnis, budidaya ikan nila dengan metode bioflok sangat menguntungkan karena harga jualnya yang tinggi dan stabil.

Hal-hal yang Harus Diperhatikan pada Teknik Bioflok

Hal-hal yang Harus Diperhatikan pada Teknik Bioflok
news.kkp.go.id

Apabila ingin menerapkan budidaya ikan nila bioflok, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Selain keempat komponen yang telah disebutkan di atas, peternak pun perlu mempertimbangkan poin-poin di bawah ini:

Baca Juga: Keuntungan Budidaya Ikan Nila Merah

1. Aliran Listrik Stabil

Keberadaan aerator wajib dalam teknik bioflok. Aerator harus selalu beroperasi, artinya aliran listrik tidak boleh terputus. Kalau aerator berhenti bekerja, maka air akan menjadi asam akibat kandungan nitrat yang tinggi.

Mungkin Anda berpikir akan mengeluarkan biaya lebih untuk bayar listrik. Namun sebenarnya ini akan lebih murah dibandingkan untuk penghematan pakan dan air.

2. Cermat dalam Mengontrol Kondisi Air

Bagi pemula awalnya pasti akan merasa kesulitan. Memang dibutuhkan ketelitian dan ketekunan dalam mengontrol kadar pH, nitrat, dan jumlah bioflok dalam air.

Kepekatannya harus dipastikan pas karena jika terlalu pekat akan mengakibatkan kematian bertahap. Penyebabnya adalah kadar oksigen yang terlalu rendah. Tapi ini semua bisa dipelajari seiring dengan berjalannya waktu.

3. Pastikan Tidak Ada Kebocoran

Sistem bioflok tidak akan berhasil kalau kolam mengalami kebocoran atau rembes. Kondisi ini bisa mengancam biosecurity yang ada. Oleh sebab itu, peternak harus rajin mengontrol kondisi kolam secara keseluruhan, baik dari dalam maupun dari luar.

Persiapan Budidaya Ikan Nila Bioflok

Persiapan Budidaya Ikan Nila Bioflok
infopublik.id

Tampaknya mungkin sedikit rumit untuk menerapkan sistem bioflok. Tapi sebenarnya cara ini mudah dan bisa diikuti oleh pemula. Berikut adalah yang harus dilakukan:

1. Membuat Kolam

Kolam ikan harus menggunakan terpal. Pastikan terpal dalam kondisi baik dan tidak ada yang bolong. Bagian dalam kolam bisa menggunakan besi supaya lebih awet. Besar kolam bebas, namun biasanya berukuran 2 – 3 meter.

Tempatkan kolam di daerah yang tidak terkena sinar matahari sebab akan mempengaruhi pH air dan mikroorganisme di dalam air.

2. Bakteri

Siapkan bakteri yang bersifat non patogen. Bakteri ini akan berperan dalam merangsang pertumbuhan mikroorganisme. Keberadaan bakteri sangat penting dan menjadi syarat utama yang tak boleh dilupakan.

3. Ketersediaan Air dan Aerator

Aerator adalah alat yang akan mensuplai oksigen dalam air sehingga mikroorganisme akan bercampur di sana. Mikroorganisme tidak bisa dicampur secara manual oleh manusia, tapi harus menggunakan aerator. Adapun air yang baru diisi ke kolam harus diinapkan dulu semalam.

Selanjutnya, hari kedua baru diisi dengan bakteri secara bertahap. Jika semua bakteri sudah dimasukkan, jangan langsung ditebar bibit ikan. Diamkan dulu selama tujuh hingga sepuluh hari. Periode ini penting dilakukan agar mikroorganisme berkembang secara maksimal.

4. Menebar Bibit atau Benih

Pilih bibit atau benih yang berkualitas. Hal ini bisa dilihat dari gerakannya yang gesit dan anggota tubuh lengkap. Lebih baik memasukkan bibit dengan ukuran dan warna yang sama dalam satu kolam.

Pastikan air kolam tidak mendapat kontaminasi dari luar, seperti air hujan atau diaduk-aduk. Biarkan mereka beradaptasi dulu dengan lingkungan barunya.

5. Lakukan Perawatan

Langkah awal untuk perawatan adalah menambahkan bakteri lagi. Tujuannya untuk memaksimalkan kinerja mikroorganisme yang sudah ada sebelumnya.

Setelah itu, beri pakan dengan porsi dan ukuran yang sesuai dengan mulut ikan. Untuk ikan yang masih kecil, pastikan ukuran makanan cukup ke mulutnya sehingga lebih mudah ditelan. Adapun waktu pemberian pakan biasanya sehari dua sampai tiga kali.

Demikianlah informasi mengenai keuntungan sistem budidaya ikan nila bioflok yang perlu Anda ketahui. Dengan berbagai keuntungan yang ditawarkan, Anda bisa meraup omzet puluhan juta setiap kali panen. Tertarik?

Budidaya Ikan Nila Bioflok

Leave a Comment